Won Many Calligraphy Champions in China – Tribun News

Kerap Sabet Juara di Negeri Panda – Tribun Jabar

Sabtu, 3 Maret 2012 21:30
20120224ddh_elizabeth_susanti_kaligrafi__(2)GENERASI muda yang menyukai seni kaligrafi Cina terbilang sangat sedikit. Di Bandung pun demikian. Lihat saja dalam komunitasnya yang tergabung dalam Perhimpunan Seni Kaligrafi dan Lukis Zhonghua Indonesia Zhonghua Indonesia yang ada di Bandung, mayoritas anggotanya sudah berusia di atas 50 tahun.
Namun di antara kerumuan para lanjut usia ternyata hadir seorang pencinta seni yang tergolong muda. Dia adalah Elizabeth Susanti BA MDs (27), yang sekarang bekerja sebagai dosen bahasa Mandarin dan desain di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Putri bungsu dari empat bersaudara buah hati pasangan Harryanto Gunawan dan Wong Kiauw Fa ini kerap meraih penghargaan juara 1 hingga 3 melalui karya-karyanya melukis kaligrafi Cina. Bahkan semua penghargaan itu diperolehnya dalam berbgai lomba di negara Cina yang menjadi biangnya seni kaligrafi Cina.
“Penghargaan yang saya dapat sudah lebih dari 40 penghargaan. Saya mengikuti lomba ketika saya ikuti pembelajaran bahasa dan budaya Cina di Guang Xi Normal University, Cina tahun 2006. Terus selama setahun saya ambil S1 ekstension di Hebei Normal University. Pokoknya selama di sana saya banyak ikuti lomba dan pameran,” tutur Elizabeth saat ditemui Tribun di rumahnya di kawasan Jalan Otto Iskandar Dinata, Bandung, Jumat (24/2).
Seusai menyelesaikan S1 Ekstensionnya di negeri Panda dengan IPK 3,83 dan lulus dengan kumlaud, dosen muda nan enerjik yang berprinsip hidup ‘berusaha maksimal dalam segala hal’ itu melanjutkan S2-nya di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Bandung. Kuliah S2-nya pun diselesaikannya hanya dalam waktu sekitar 2 tahun dengan IPK 3,57.
Setelah kembali ke tanah air, saya tetap sering kirimkan karya untuk dilombakan atau pameran. Malah saya sangat bangga sekali, karena saat bencana badai salju menerjang Shanghai tahun lalu, saya diundang menyumbangkan karya kaligrafi untuk dilelang dan hasilnya untuk korban bencana. Saya tambah senang, karena karya saya laku terjual dalam lelang itu,” katanya.
Berdasarkan pengalamannya menggeluti seni kaligrafi Cina, diakui Elizabeth belum pernah menemukan perkumpulan pencinta seni kaligrafi Cina yang ada anak mudanya. Mulai dari perkumpulan yang ada di Bandung, Jakarta bahkan di negeri Cina pun hampir semua yang dilihatnya merupakan kalangan paruh baya ke atas.
“Selain itu kebanyakan di Cina sendiri, selain sudah tua mereka itu juga kebanyakan kaum laki-laki yang belajar menulisa kaligrafi,” ujarnya.
Dengan kemampuannya menulis kaligrafi yang kerap menyabet juara dan mahir berbahasa Mandarin ini, gadis yang aktif mengikuti kursus kaligrafi di Cina di sela-sela liburan kuliah D3-nya Bahasa Cina ini pun sempat terjun lama menularkan ilmunya kepada mereka yang mau belajar. Mengajarkan kaligrafi dan bahasa Mandarin itu dijalaninya di Pusat Belajar Bahasa Tionghoa, kawasan Kebon Jati, Bandung sejak tahun 2006.
“Tapi sekarang ini saya baru menyelesaikan S2, jadi kesibukan mengajar hanya di kampus (Universitas Kristen Maranatha, red) saja,” ujar Elizabeth yang sempat pula menjadi pembicara pada Seminar Kaligrafi Tionghoa, Nuansa, dan Ekspresi dalam Goresan.
Meski sekarang hanya mengajar di kampus, Elizabeth yang aktif menunjukan karyanya dalam setiap pameran tahunan di kampus masih berkeinginan untuk mengenalkan dan mengajak generasi muda menyukai seni kaligrafi Cina. Hambatan yang dirasakannya hingga sekarang ini banyak kaum muda tergesa-gesa untuk mengetahui makna dari seni kaligrafi Cina.
“Kalau benar-benar ingin belajar kaligrafi Cina itu jangan dulu mencoba mencari tahu maknanya. Tapi munculkan dulu rasa suka dulu dari bentuk sapuan kuas pada huruf-hurufnya. Rasakan dulu keindahan lekukan-lekukan hurufnya. Anggap saja sebagai lukisan abstrak. Dan sekarang ini susahnya banyak anak muda yang baru melihatnya saja sudah bilang ah susah dibaca tulisannya,” katanya seraya berharap lebih banyak lagi generasi muda yang menyukai seni kaligrafi Cina.
Penulis: ddh
Editor: fam
Sumber: Tribun Jabar
link